15 June 2011

New Skin

EM Onion Head friendly greeting, hello
hi.. hi~ everyone ^^
i just changed my template again..
What do you think? more fresh, isn't it? I love the color ♥


Best regards,

13 June 2011

RELAX AND PRAY




Dear God, I Beg You!

Give me the wisdom to understand my boss.

Give the love to forgive him.

Give me the patience to understand his deeds.


But dearest God,
don't give me the power

Because if You give me the Power

I'LL BREAK HIS HEAD


If life feels heavy today and salary feels still so long
or unfinished duty, or unreachable goal, added instead.
Just one thing that we can do
...


RELAX AND PRAY ^^



source: renungan-harian-kita.blogspot.com/2008




Best regards,

18 May 2011

(True Story) Andaikan Ku Harus Memilih






.....pilihlah pada hari ini
pada siapa kamu akan beribadah..

(Yosua 24:15)


.....choose you this day
whom you will serve..

(Joshua 24:15)


Ada sebuah true story yang sangat menyentuh hati saya.
Sebenarnya saya tidak mengenal pelaku true story ini, karena saya memperoleh kesaksian ini dari sahabat sang tokoh utama true story ini.

Pada hari H pernikahan yang menjadi dambaan semua pasangan kekasih,
sepasang calon mempelai sedang berada di dalam mobil pengantin yang segera menuju gedung gereja tempat pemberkatan pernikahan akan diadakan.
Semua keluarga dan sahabat dari kedua belah pihak mempelai sedang menantikan kedatangan mereka di gedung gereja tsb.
Tiba-tiba di tengah perjalanan menuju ke gereja, bagaikan disambar halilintar mempelai wanita mendengarkan mempelai pria berkata padanya,
"....ini adalah terakhir kalinya saya menginjakkan kaki di gereja."

Dengan kata lain sesudah pemberkatan pernikahan yang memang harus diselenggarakan di gereja, mempelai pria yang kelak akan menjadi kepala dalam rumah tangga mengatakan bahwa ia tidak akan menjadi pengikut Tuhan Yesus.
Ternyata selama ini ia mau datang ke gereja hanyalah sebagai pendekatan kepada kekasihnya yang sangat mengasihi Tuhan Yesus.

Sang mempelai wanita mendadak berada di persimpangan jalan.
Apa yang harus dilakukannya?
Tiba-tiba diperhadapkan dalam suatu pengambilan keputusan yang sangat sulit, justru di hari bahagianya.
Apakah pernikahan ini akan tetap diselenggarakan dengan konsekuensi suaminya yang akan menjadi pemimpin dalam keluarga (yang harus dihormatinya) bukanlah seorang pengikut Kristus?

Apa yang diputuskan sang mempelai wanita bukanlah suatu keputusan yang populer. Dan saya percaya 'tidak banyak orang' yang berani mengambil keputusan ini dan mempertaruhkan masa depannya.


"IA MEMBATALKAN PERNIKAHANNYA."



Tidak peduli kepada seluruh kerabat yang menantikannya dengan bahagia di gereja, tidak peduli kepada banyaknya undangan resepsi pernikahan untuk relasi yang sudah dikirimkan, tidak peduli kepada banyaknya biaya yang sudah dikeluarkan, dan tidak peduli kepada rasa malu yang akan mencoreng wajah keluarganya,
IA MEMILIH UNTUK TIDAK JADI MENIKAH.

Sang mempelai wanita lebih peduli kepada Tuhannya. Ia tidak mau menghianati Tuhannya. Seperti Yosua di Perjanjian Lama, ia mau berkata :
"Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!"
(Yosua 24:15)

Ketika masih single, saya pernah berusaha kompromi untuk hal ini.
Saya pikir it's ok membina hubungan dengan seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan saya, asalkan saya tetap mengikut Tuhan dengan setia.
Kakak-kakak rohani berusaha menasehati saya dengan menceritakan kesaksian seorang wanita yang mengasihi Tuhan tapi bersuamikan orang yang tidak kenal Tuhan. Wanita ini harus menangis selama 40 tahun dalam doa-doanya sebelum akhirnya suami diselamatkan dan menjadi orang percaya. Mereka menasehati saya, "Maukah kamu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk pertobatan suamimu?"

Sesuatu yang saya pikir adalah cinta membutakan mata saya, dan saya mengabaikan nasehat kakak rohani saya.
Saya menaruh kaki saya di atas dua perahu.
Suatu ketika dalam pergumulan yang melelahkan, saat itu dengan jelas Tuhan berkata (hampir seperti audible), firmanNya dalam :

Matius 6:24,
"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada seorang dan tidak mengindahkan yang lain...."


Akhirnya dengan susah payah dan dengan air mata yang tidak terhitung banyaknya, saya memilih Tuhan Yesus dan mengakhiri hubungan yang tidak seimbang itu.
Sekarang saya bersaksi kepada teman-teman, saya tidak pernah menyesali keputusan itu dan saya juga sangatlah diberkati dengan pilihan tersebut.

Mempelai wanita memilih untuk mengabdi kepada Tuhan Yesus, karena ia tahu tidak mungkin ia bisa mengabdi kepada dua tuan.
Seorang yang main ski air dan ditarik oleh dua perahu yang berbeda, pasti akan terjatuh dan gagal.

Pastikan hari-hari ini teman-teman memilih Tuan yang benar.

Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.



source: julitamanik.blogspot.com




Best regards,

26 April 2011

Roh Menghakimi

Matius 7:1
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 117; 1 Korintus 5; Rut 1-2

Seorang pria muda yang sudah menikah mulai kembali kepada kebiasaan lamanya yaitu suka dengan hal-hal yang berbau pornografi, ia pun pergi ke sebuah tempat dimana hal-hal seperti itu dapat ia temukan. Ketika orangtuanya mengetahui hal ini, mereka menegurnya dengan lembut dan bijak.

Mendapat nasihat dari ayah dan ibunya, sang anak bukannya menerima tetapi malah marah-marah kepada mereka. Ia menilai orangtuanya suka menghakimi. Dengan hati yang remuk mereka hanya bisa diam. Mereka menangis karena buah hati mereka tidak mendengarkan apa yang mereka katakan. Dan benar, tidak dalam hitungan satu tahun, hidup putranya akhirnya hancur – ia dan sang istri bercerai, lalu dirinya terkena PHK, usaha yang dibangun selama ini pun harus gulung tikar karena selalu mengalami kerugian.

Banyak orang pada masa sekarang akan mengatakan bahwa orangtua, kakak, pembimbing rohani, bahkan gembala sidang tidak berhak untuk menegur bahwa mereka salah. Mereka bahkan dengan berani mengutip kata-kata Yesus, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matius 7:1).

Namun, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa setiap kita bertanggung jawab dengan rendah hati menegur sesama orang percaya ketika kita melihatnya berbuat dosa (Galatia 6:1,2). Jadi, Orangtua, kakak, pembimbing rohani, gembala sidang sebenarnya sedang melakukan tanggung jawabnya ketika menasihati kita.

Tuhan Yesus tidak mengatakan kita tidak boleh menentang dosa. Dia mengatakan kita harus hati-hati dalam menghakimi. Paulus menulis bahwa kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (I Korintus 13:5). Kita harus menerapkan prinsip praduga tak bersalah dan mengenali keterbatasan diri kita sendiri. Dan kita harus menolak perasaan superioritas rohani apapun. Kalau tidak, kita juga akan jatuh ke dalam dosa.

Menegur orang lain merupakan tanggung jawab yang serius. Oleh karenanya,lakukan dengan hati-hati dan waspadalah selalu agar jangan apa yang Anda lakukan berubah menjadi penghakiman.

Menyadari bahwa kita memiliki banyak kelemahan dapat mengerem perkataan-perkataan kita ke orang lain yang sifatnya menghakimi.



Sumber: Kingdom Magazine November 2009 & renungan-harian-kita.blogspot.com


Best regards,

26 March 2011

A Letter from Dad and Mom

Request by : Maria Chin




Exodus 20:12 “Honor your father and your mother, so that you may live long in the land the LORD your God is giving you."
God bless us -^.^-

Source: youtube


Best regards,

13 March 2011

LEAVE






Depart, depart, go out from there!
Touch no unclean thing! Come out from it and be pure,
you who carry the vessels of the LORD. [Isaiah 52:11]

Best regards,


source: donghaeng

19 February 2011

6 Pertanyan yang patut kita renungkan

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. .

Pertama...

"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ...
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar... Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. . Sebab kematian adalah PASTI adanya.....

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...

"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" ...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar... Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"... Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap
kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu... Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan
datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".. .
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ... Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"... Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya... Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu... Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...

"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru .. tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru... tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"

"(hampir) Benar...", kata Sang Guru tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"... Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...

senantiasa belajar dari MASA LALU...
dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???


Best regards,



source: renungan-harian-kita.blogspot.com